MNC Shop Kepuasan Berbelanja

0
Cart


#115162

Jejakku Mengikut Kristus

IDR 39.000

Time Left for this deal

  • 55 Days
  • 55 Hours
  • 35 Minutes
  • 20 Second

Jejakku Mengikut Kristus


Judul: Jejakku Mengikut Kristus

Paperback: 204 pages

Publisher: BPK Gunung Mulia

Edition: 1

Language: Indonesia

ISBN-10: 978-979-687-717-1

ISBN-13: -

Product Dimensions: 14x21x1 cm

Shipping Weight: 220 gr


Sinopsis

Buku ini mengungkap bagaimana Tuhan telah berkarya melalui hidup I Wayan Mastra, seorang pemimpin gereja di Bali, untuk mengubah 180 derajat teologi kemiskinan menjadi teologi berkat. Perjalanan hidupnya dapat menjadi inspirasi bagi gereja dan umat Kristen untuk menjadi berkat bagi jemaat dan masyarakat, demi kemuliaan dan kebesaran nama Tuhan.

Buku ini terdiri dari 13 bab yang semuanya merupakan urutan kronologis perjalanan hidup I Wayan Mastra (lahir 1932). Diawali dengan kisah masa-masa sekolahnya, buku ini memberikan kesan yang kuat bagaimana seorang yang malas sekolah dan harus dipaksa oleh ayahnya akhirnya bisa mengambil banyak manfaat dari pendidikannya. Kisah ini dituturkan secara hidup dalam Bab 1, di samping ia juga menuturkan mengenai keluarga dan adat-istiadat Bali.

Bab 2 menuturkan bagaimana ia mulai memasuki sekolah guru Kristen di Surabaya (1950-1953). Ia sebenarnya tidak tertarik menjadi Kristen. Namun, ada suatu pengalaman menarik yang terjadi pada dirinya. Pada waktu ayahnya sakit keras di Bali dan tidak sempat mengirim uang ke Surabaya, penulis merasa putus asa. Ia bingung karena sudah sekian lama ayahnya tidak mengirim uang atau kabar. Ia benar-benar terancam putus sekolah. Pada saat puncak kebingungannya, tiba-tiba ada sesuatu yang mendorongnya untuk masuk ke dalam gereja dan berdoa. Ia pun berdoa di dalam gereja dengan khusyuk. Dengan perasaan tenang, ia kembali ke tempat kos. Dua minggu kemudian, uang dan surat dari ayahnya pun tiba!

Penulis melihat pengalaman itu sebagai penggenapan dari ayat Kitab Suci yang sering dibacanya di sekolah guru Kristen itu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Ia pun bertekad untuk dibaptis menjadi Kristen. Kisah menarik dan menyentuh ini dipaparkan dalam bab ini. Bab ini pun menuturkan perjalanan hidupnya ketika ia memasuki sekolah tinggi teologi di Jakarta (1955-1960) sebagai proses menjadi pendeta (di samping awalnya ia sempat menjadi guru di Bali pada tahun 1954). Dalam bab ini pulalah penulis menuturkan mengenai awal mula sejarah gereja Bali (Gereja Kristen Protestan di Bali GKPB).

Dalam Bab 3, perjalanan hidup penulis memasuki fase baru: menjadi pendeta jemaat di Singaraja (1962-1965). Kisah hidup penulis yang penuh dengan suka-suka menjadi bagian pokok dalam bab ini. Dengan gaji yang kecil, fasilitas yang minim, dan daerah pelayanan yang sulit, penulis harus berjuang sendirian mengembangkan umat yang ada di wilayah ini.

Akhirnya, dengan kegigihannya, ia berhasil membaptis banyak orang di sana. Namun, bukan pembaptisan saja yang dilakukan penulis. Ia berhasil mengembangkan ekonomi jemaat di sana dengan cara mengembangkan suatu sistem modal usaha yang bertumpu pada kerja sama dengan umat. Ia meminjam uang dari bank dan ia membeli babi dengan uang itu untuk diberikan kepada salah seorang petani untuk dipelihara. Petani tersebut harus menggemukkan babi itu dan menjualnya. Lalu si petani akan mengembalikan pinjamannya, memberikan sedikit keuntungannya kepada gereja, dan sipetani masih memiliki sejumlah uang yang bisa digunakan untuk membeli babi lagi.  Dengan cara ini, dana tetap bergulir dan bisa berjalan lancar serta memberikan dampak positif bagi kehidupan mereka. Di samping proyek modal usaha itu, penulis juga memikirkan bagaimana anak-anak dapat melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Ia membuka asrama yang diperuntukkan bagi anak-anak pendeta dan penatua. 

Bab 4 menuturkan pengalaman penulis ketika ia melanjutkan sekolah di Universita Dubuque, Iowa, Amerika Serikat, berkat beasiswa yang diterimanya (1965-1971). Di universitas ini, ia kuliah di Seminari Presbiterian yang merupakan bagian darinya. Di sana, ia mempelajari banyak hal: pergaulan antarbangsa, gerakan oikumene, pengalaman bekerja sambilan. dan sebagainya. Ia memperoleh kesempatan berharga ketika ia membantu suatu jemaat kecil di sana dengan imbalan uang. Sambil melayani, ia pun belajar mengenai pengelolaan pertanian Iowa terkenal dengan pertaniannya. Jadi, dengan 1 kegiatan, ia memperoleh 3 hal: pengalamanan melayani, pengetahuan tentang pertanian, dan uang. Sebagai tahap akhir kehidupannya di sana, penulis menulis disertasi tentang Hendrik Kraemer. Dengan disertasi itu, ia akhirnya meraih gelar doktor.

Dalam bab-bab selanjutnya, penulis silih berganti mengisahkan kelanjutkan kisah hidupnya. Beberapa momen yang penting adalah ketika ia harus kehilangan putri bungsunya yang meninggal terbawa arus ombak saat berenang di pantai (Bab 7). Terkait dengan kariernya dalam GKPB, ia menuturkan bagaimana ia merangkak dari bawah sepulangnya dari Amerika. Jabatan pertama yang dipegangnya adalah Ketua Pembinaan Kaum Awam di Sinode (Bab 5). Posisinya ini sangat strategis karena ia dapat bertemu banyak orang baik di dalam gereja maupun di luar, begitu juga ia dapat memaparkan visinya tentang pemberdayaan jemaat kepada rekan-rekan sesinode. Visi dan misi tentang jemaat ini akhirnya dapat terwujud ketika ia akhirnya menjadi terpilih menjadi ketua Sinode pada tahun 1972 (Bab 6). Dengan demikian, ia secara leluasa mewujudkan visi dan misinya itu. Ia mulai mempraktikkan apa yang menjadi visi-misinya itu. Ia mendirikan hotel, sekolah, dan berbagai usaha lain. Ini semua adalah demi terwujudnya visi-misi tersebut. Hal ini dituturkan dalam Bab 8 dan Bab 9. Ia menjabat posisi dalam waktu yang lama sampai tahun 1984.

Pada Bab 10, penulis diangkat sebagai Bishop GKPB. Sebenarnya, jabatan ini adalah sama dengan jabatan Ketua Sinode. Hanya saja, sinode tahun 1984 mengubah istilah yang kedua tersebut menjadi Bishop, karena istilah terakhir ini lebih bersifat alkitabiah. Pada tahun 1984 itu pula ia diangkat menjadi anggota MPH PGI. Ia menjabat sebagai Bishop sampai tahun 1988. Pengalaman pahit ia alami setelah ia tidak menjabat lagi. Setelah tahun 1988, banyak gosip tidak sedapat yang terlontar mengenai dirinya ia dituduh korupsi dan sebagainya (Bab 11). Namun, ia tetap tegar dan tabah serta menjalani karya-karyanya yang banyak itu seperti biasa. Pada tahun 1992, sinode GKPB meminta ia menjadi Bishop kembali, yang akhirnya ia terima (Bab 12). Ia kembali berperan dan melayani dengan mengelola yayasan-yayasan yang dimiliki Gereja. Dengan kepiawaian dan pengalamannya, ia kembali mengembangkan semua badan usaha yang dimiliki yayasan-yayasan Gereja tersebut. Semuanya akhirnya berkembang dengan baik setelah mengalami krisis karena terlilit utang. Ia berkarya sampai tahun 2000.

Bab 13, bab terakhir, adalah kesempatan penulis untuk meninjau ulang semua pengalaman yang telah dilaluinya. Akhirnya, ia menyebut semua pengalaman ini sebagai jejaknya dalam mengikuti Kristus.


Paket Pembelian buku Jejakku Mengikut Kristus di MNC Shop:

1 buku Jejakku Mengikut Kristus


Jual buku Jejakku Mengikut Kristus dengan harga terbaik hanya di www.mncshop.co.id. Temukan daftar harga buku terbaru. MNC Shop adalah TV Home Shopping dan Online Shopping terintegrasi pertama di Indonesia yang mengudara 24 jam di channel 88 Indovision, Top TV. Oke Vision dan online di www.mncshop.co.id




Add To Wishlist

Product Information

Jejakku Mengikut Kristus


Judul: Jejakku Mengikut Kristus

Paperback: 204 pages

Publisher: BPK Gunung Mulia

Edition: 1

Language: Indonesia

ISBN-10: 978-979-687-717-1

ISBN-13: -

Product Dimensions: 14x21x1 cm

Shipping Weight: 220 gr


Sinopsis

Buku ini mengungkap bagaimana Tuhan telah berkarya melalui hidup I Wayan Mastra, seorang pemimpin gereja di Bali, untuk mengubah 180 derajat teologi kemiskinan menjadi teologi berkat. Perjalanan hidupnya dapat menjadi inspirasi bagi gereja dan umat Kristen untuk menjadi berkat bagi jemaat dan masyarakat, demi kemuliaan dan kebesaran nama Tuhan.

Buku ini terdiri dari 13 bab yang semuanya merupakan urutan kronologis perjalanan hidup I Wayan Mastra (lahir 1932). Diawali dengan kisah masa-masa sekolahnya, buku ini memberikan kesan yang kuat bagaimana seorang yang malas sekolah dan harus dipaksa oleh ayahnya akhirnya bisa mengambil banyak manfaat dari pendidikannya. Kisah ini dituturkan secara hidup dalam Bab 1, di samping ia juga menuturkan mengenai keluarga dan adat-istiadat Bali.

Bab 2 menuturkan bagaimana ia mulai memasuki sekolah guru Kristen di Surabaya (1950-1953). Ia sebenarnya tidak tertarik menjadi Kristen. Namun, ada suatu pengalaman menarik yang terjadi pada dirinya. Pada waktu ayahnya sakit keras di Bali dan tidak sempat mengirim uang ke Surabaya, penulis merasa putus asa. Ia bingung karena sudah sekian lama ayahnya tidak mengirim uang atau kabar. Ia benar-benar terancam putus sekolah. Pada saat puncak kebingungannya, tiba-tiba ada sesuatu yang mendorongnya untuk masuk ke dalam gereja dan berdoa. Ia pun berdoa di dalam gereja dengan khusyuk. Dengan perasaan tenang, ia kembali ke tempat kos. Dua minggu kemudian, uang dan surat dari ayahnya pun tiba!

Penulis melihat pengalaman itu sebagai penggenapan dari ayat Kitab Suci yang sering dibacanya di sekolah guru Kristen itu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Ia pun bertekad untuk dibaptis menjadi Kristen. Kisah menarik dan menyentuh ini dipaparkan dalam bab ini. Bab ini pun menuturkan perjalanan hidupnya ketika ia memasuki sekolah tinggi teologi di Jakarta (1955-1960) sebagai proses menjadi pendeta (di samping awalnya ia sempat menjadi guru di Bali pada tahun 1954). Dalam bab ini pulalah penulis menuturkan mengenai awal mula sejarah gereja Bali (Gereja Kristen Protestan di Bali GKPB).

Dalam Bab 3, perjalanan hidup penulis memasuki fase baru: menjadi pendeta jemaat di Singaraja (1962-1965). Kisah hidup penulis yang penuh dengan suka-suka menjadi bagian pokok dalam bab ini. Dengan gaji yang kecil, fasilitas yang minim, dan daerah pelayanan yang sulit, penulis harus berjuang sendirian mengembangkan umat yang ada di wilayah ini.

Akhirnya, dengan kegigihannya, ia berhasil membaptis banyak orang di sana. Namun, bukan pembaptisan saja yang dilakukan penulis. Ia berhasil mengembangkan ekonomi jemaat di sana dengan cara mengembangkan suatu sistem modal usaha yang bertumpu pada kerja sama dengan umat. Ia meminjam uang dari bank dan ia membeli babi dengan uang itu untuk diberikan kepada salah seorang petani untuk dipelihara. Petani tersebut harus menggemukkan babi itu dan menjualnya. Lalu si petani akan mengembalikan pinjamannya, memberikan sedikit keuntungannya kepada gereja, dan sipetani masih memiliki sejumlah uang yang bisa digunakan untuk membeli babi lagi.  Dengan cara ini, dana tetap bergulir dan bisa berjalan lancar serta memberikan dampak positif bagi kehidupan mereka. Di samping proyek modal usaha itu, penulis juga memikirkan bagaimana anak-anak dapat melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Ia membuka asrama yang diperuntukkan bagi anak-anak pendeta dan penatua. 

Bab 4 menuturkan pengalaman penulis ketika ia melanjutkan sekolah di Universita Dubuque, Iowa, Amerika Serikat, berkat beasiswa yang diterimanya (1965-1971). Di universitas ini, ia kuliah di Seminari Presbiterian yang merupakan bagian darinya. Di sana, ia mempelajari banyak hal: pergaulan antarbangsa, gerakan oikumene, pengalaman bekerja sambilan. dan sebagainya. Ia memperoleh kesempatan berharga ketika ia membantu suatu jemaat kecil di sana dengan imbalan uang. Sambil melayani, ia pun belajar mengenai pengelolaan pertanian Iowa terkenal dengan pertaniannya. Jadi, dengan 1 kegiatan, ia memperoleh 3 hal: pengalamanan melayani, pengetahuan tentang pertanian, dan uang. Sebagai tahap akhir kehidupannya di sana, penulis menulis disertasi tentang Hendrik Kraemer. Dengan disertasi itu, ia akhirnya meraih gelar doktor.

Dalam bab-bab selanjutnya, penulis silih berganti mengisahkan kelanjutkan kisah hidupnya. Beberapa momen yang penting adalah ketika ia harus kehilangan putri bungsunya yang meninggal terbawa arus ombak saat berenang di pantai (Bab 7). Terkait dengan kariernya dalam GKPB, ia menuturkan bagaimana ia merangkak dari bawah sepulangnya dari Amerika. Jabatan pertama yang dipegangnya adalah Ketua Pembinaan Kaum Awam di Sinode (Bab 5). Posisinya ini sangat strategis karena ia dapat bertemu banyak orang baik di dalam gereja maupun di luar, begitu juga ia dapat memaparkan visinya tentang pemberdayaan jemaat kepada rekan-rekan sesinode. Visi dan misi tentang jemaat ini akhirnya dapat terwujud ketika ia akhirnya menjadi terpilih menjadi ketua Sinode pada tahun 1972 (Bab 6). Dengan demikian, ia secara leluasa mewujudkan visi dan misinya itu. Ia mulai mempraktikkan apa yang menjadi visi-misinya itu. Ia mendirikan hotel, sekolah, dan berbagai usaha lain. Ini semua adalah demi terwujudnya visi-misi tersebut. Hal ini dituturkan dalam Bab 8 dan Bab 9. Ia menjabat posisi dalam waktu yang lama sampai tahun 1984.

Pada Bab 10, penulis diangkat sebagai Bishop GKPB. Sebenarnya, jabatan ini adalah sama dengan jabatan Ketua Sinode. Hanya saja, sinode tahun 1984 mengubah istilah yang kedua tersebut menjadi Bishop, karena istilah terakhir ini lebih bersifat alkitabiah. Pada tahun 1984 itu pula ia diangkat menjadi anggota MPH PGI. Ia menjabat sebagai Bishop sampai tahun 1988. Pengalaman pahit ia alami setelah ia tidak menjabat lagi. Setelah tahun 1988, banyak gosip tidak sedapat yang terlontar mengenai dirinya ia dituduh korupsi dan sebagainya (Bab 11). Namun, ia tetap tegar dan tabah serta menjalani karya-karyanya yang banyak itu seperti biasa. Pada tahun 1992, sinode GKPB meminta ia menjadi Bishop kembali, yang akhirnya ia terima (Bab 12). Ia kembali berperan dan melayani dengan mengelola yayasan-yayasan yang dimiliki Gereja. Dengan kepiawaian dan pengalamannya, ia kembali mengembangkan semua badan usaha yang dimiliki yayasan-yayasan Gereja tersebut. Semuanya akhirnya berkembang dengan baik setelah mengalami krisis karena terlilit utang. Ia berkarya sampai tahun 2000.

Bab 13, bab terakhir, adalah kesempatan penulis untuk meninjau ulang semua pengalaman yang telah dilaluinya. Akhirnya, ia menyebut semua pengalaman ini sebagai jejaknya dalam mengikuti Kristus.


Paket Pembelian buku Jejakku Mengikut Kristus di MNC Shop:

1 buku Jejakku Mengikut Kristus


Jual buku Jejakku Mengikut Kristus dengan harga terbaik hanya di www.mncshop.co.id. Temukan daftar harga buku terbaru. MNC Shop adalah TV Home Shopping dan Online Shopping terintegrasi pertama di Indonesia yang mengudara 24 jam di channel 88 Indovision, Top TV. Oke Vision dan online di www.mncshop.co.id


Follow Us

Daily Quotes

The best way to predict the future is to create it. – Dr. Forrest C. Shaklee

Payment Methods

Manual Transfer Klikpay Master Card Bank Transfer BNI Verified by Visa Mastercard Securecode BCA KlikPay Danamon

Communications

Cleaning/Laundry/Storage

Kitchenware

Sports/Leisure